Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

2012-04-10

KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH: Keislaman Abu Jandal r.a. dan Abu Bashir r.a.


Pada tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad SAW ingin berumrah dan berziarah ke Makkah. Kabar ini diketahui oleh orang-orang kafir Makkah dan membuat mereka merasa terhina, sehingga mereka berencana akan menghalangi perjalanan Muhammad SAW pergi bersama para sahabat yang telah siap mengorbankan jiwa raga mereka di jalan Allah SWT. Namun, demi kebaikan penduduk Makkah, Rasulullah SAW tidak menghendaki perang. Beliau berusaha mengadakan perjanjian dengan mereka. Walaupun para sahabat telah siap berperang, Rasulullah SAW  tetap memperhatikan orang-orang kafir dan menerima syarat yang mereka ajukan. Sebenarnya para sahabat sangat tertekan dengan perjanjian ini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun terhadap keputusan Rasulullah SAW. Bahkan seorang pemberani seperti Umar r.a. pun merasa tertekan dengan perjanjian ini.
Adapun salah satu isi keputusan perjanjian tersebut adalah:

2012-03-23

DOA RASULULLAH SAW SEPENINGGALANNYA DARI THAIF


 Selama sembilan tahun sejak kerasulan, Nabi Muhammad saw telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di Makkah, namun sangat sedikit yang menerima ajakan beliau, kecuali orang-orang yang sejak awal telah masuk Islam. Selain mereka, ada orang-orang yang belum masuk Islam, tetapi siap membantu Rasulullah saw. Dan kebanyakan orang-orang kafir di Makkah selalu menyakiti dan mempermainkan beliau dan sahabat beliau.

2011-03-20

Air Mata Umat yang Tafakur

Ketika tiba hari kiamat, keluarlah gumpalan api dari neraka jahanam. Gumpalan api itu sebesar gunung. Ia bergulung-gulung melumat apa saja yang dilandanya. Api itu meluncur ke arah umat Nabi Muhammad saw. Beliau berusaha menolaknya, tetapi tak mampu. Gunung api itu terlalu besar. Rasulullah pun lalu memanggil Malaikat Jibril dan memberitahukan hal itu.
“Hai Jibril, gunung api ini benar-benar akan menuju umatku dan membakar mereka,” kata beliau.
Mendengar itu, Jibril lalu mengambil segelas air. Air itu diberikan kepada Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, ambilah air ini dan percikkan ke api itu!”
Rasulullah menerima air itu dan memercikkannya ke gumpalan api yang membara. Seketika itu juga api padam. Hal itu membuat Rasulullah heran. Belum ada percikkan air bisa memadamkan gunung api sebesar itu.
“Hai Jibril, air apakah itu sehingga bisa memadamkan api?” tanya Rasulullah.
“Air itu adalah air mata umatmu,” jawab Jibril.
“Air mata umatku?” tanya Rasulullah tak percaya.
“Ya. Air mata umatmu yang menangis karena tafakur dan takut kepada Allah dalam ruangan seorang diri. Allah telah memerintahkan aku untuk menampungnya dan menjaganya sanpai saat engkau membutuhkannya untuk memadamkan api yang menuju ke arah umatmu,” jawab Jibril.